10 Amalan yang Dianjurkan Selama Bulan Puasa Selain Shalat Agar Pahala Tetap Mengalir!


HAIJAKARTA.ID – Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, ditambah jika mengamalkan beberapa amalan yang dapat menambah pahala ibadah puasa, tak hanya sekadar sholat beberapa amalan lain pun bisa dilakukan.
Dalam Islam, tidak membatasi pahala Ramadhan hanya sholat semata karena itu, mengisi Ramadhan dengan amalan yang tepat menjadi kunci agar puasa tidak sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang berdampak pada jiwa.
Menariknya, beberapa amalan justru sangat dianjurkan dilakukan di jam-jam rawan puasa, ketika seseorang mulai lelah, lapar, atau kehilangan fokus.

Berikut ini beberapa amalan yang bisa kamu lakukan selama bulan puasa selain sholat, diantaranya:
Puasa sering bikin hati gampang lelah dan pikiran berisik. Dzikir hadir sebagai “penenang batin” agar hati tetap sadar bahwa Allah selalu dekat.
Sebagaana dalil Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Saat tubuh menahan lapar, jiwa justru perlu asupan. Al-Qur’an menjadi nutrisi ruhani agar puasa tidak hanya menahan makan, tapi juga mendekatkan diri pada Allah.
Sebagaimana dalam hadis Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Puasa mengajarkan menahan, sedekah mengajarkan memberi. Ketika memberi saat diri sendiri lapar, hati dilatih untuk ikhlas dan tidak dikuasai keinginan dunia.
Sebagaimana dalam hadis riwayat muslim: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.”(HR. Muslim)
Memberi makan orang berbuka seperti takjil, bukan hanya tentang makanan, tapi tentang empati. Dengan melakukan amalan tersebut hati belajar peduli tanpa harus berlebih-lebihan.
Seperti yang disampaikan dari hadist: “Siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Puasa bukanlah hanya urusan perut, tetapi ibadah yang mengharuskan kita untuk menjaga diri mulai dari menjaga lisan. Menjaga ucapan berarti menjaga hati agar tidak rusak oleh emosi dan dosa kecil.
Sebagai mana yang telah disampaikan dalam HR. Bukhari:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Bukhari)
Saat berpuasa, hati cenderung lebih tenang dan jujur. Doa menjadi tempat terbaik untuk menyerahkan beban pikiran, memohon kekuatan, dan menenangkan diri di hadapan Allah. Kondisi lapar dan menahan diri justru melatih kerendahan hati, sehingga doa lebih khusyuk.
“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka…” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa waktu puasa adalah momen istimewa untuk berdoa karena peluang dikabulkannya sangat besar.
Pada saat menjalankan puasa lapar sering kali memicu emosi terlebih jika ada yang memancingnya. Menahan amarah adalah cara latihan batin agar puasa membentuk karakter, bukan hanya sekedar rutinitas.
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di bulan puasa, i’tikaf menjadi cara menjaga kualitas ibadah agar tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menenangkan hati.
Dengan menyepi di masjid dan menjauh dari distraksi dunia, puasa menjadi lebih fokus pada pengendalian diri dan kedekatan dengan Allah.
Firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu mencampuri istri-istri kamu ketika kamu beri’tikaf di masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menegaskan bahwa i’tikaf adalah ibadah khusus yang sering dilakukan di bulan Ramadan untuk menyempurnakan nilai puasa, terutama di sepuluh malam terakhir.
Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kesadaran diri. Istighfar membantu membersihkan hati dari kelalaian, ucapan yang tidak dijaga, dan pikiran yang sempat tergelincir selama berpuasa.
Dengan istighfar, puasa menjadi sarana kembali merendahkan diri di hadapan Allah.
Hadist Riwayat Bukhari: “Demi Allah, aku beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali sehari.” (HR. Bukhari)
Puasa akan kehilangan maknanya jika tidak dilandasi niat yang ikhlas. Niat menjadikan setiap amalan di bulan Ramadan sekecil apa pun bernilai ibadah dan diterima di sisi Allah. Ikhlas menjaga puasa tetap lurus, bukan demi pujian atau kebiasaan semata. “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Adapun beberapa tips yang bisa kamu lakukan agar tetap semangat dalam menjalankan amalan selama puasa Ramadhan, diantaranya sebagai berikut:
Puasa mengajarkan ketekunan. Amalan ringan seperti dzikir singkat, membaca satu halaman Al-Qur’an, atau doa sederhana jauh lebih menjaga semangat daripada memaksakan target besar tapi cepat lelah.
Setiap sahur atau setelah Subuh, perbarui niat bahwa puasa dan amalan yang dijalani semata-mata karena Allah, bukan karena rutinitas atau tuntutan sosial.
Fokuskan amalan pada momen hati lebih tenang, seperti setelah Subuh, menjelang berbuka, dan sepertiga malam. Di waktu ini, puasa membuat hati lebih mudah khusyuk.
Setiap orang punya ritme dan ujian berbeda, jadi janganlah membandingkan ibadah diri sendiri dengan ibadah orang lain. Karena puasa adalah perjalanan personal antara hamba dan Allah.
Puasa mengajarkan bahwa lelah bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjuangan. Saat tubuh terasa lemah atau pikiran terasa berat, jangan memaksakan diri dengan amalan yang menguras tenaga. Cukupkan dengan doa sederhana, istighfar perlahan, atau menghadirkan niat baik di dalam hati.
Rangkuman AI sedang dibuat…