Ancaman Penyakit Usai Banjir dan Longsor di Aceh–Sumut, Ini Kata Pakar Kesehatan



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID – Di tengah proses evakuasi serta penanganan darurat banjir dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatera Utara, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa risiko penyebaran penyakit menular bisa meningkat.
Selain itu, kondisi pasien dengan penyakit tidak menular (PTM) di area terdampak juga dikhawatirkan semakin memburuk.
Polda Sumatera Utara melaporkan setidaknya 34 orang meninggal dunia akibat bencana yang terjadi di sejumlah daerah pada 24–26 November 2025.
Korban terbanyak berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dengan 17 orang.
Disusul Kota Sibolga sebanyak 8 orang, Tapanuli Tengah 4 orang, Pakpak Bharat 2 orang, Humbang Hasundutan 2 orang, dan Nias Selatan 1 orang.
“Data ini masih bersifat sementara dan terus diperbarui,” ujar Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan, Jumat (28/11/2025), dikutip dari Detik.
Situasi di lapangan masih jauh dari stabil, sehingga ancaman penyakit usai banjir dan longsor di Aceh-Sumut bisa terjadi.
Distribusi bantuan belum merata, sementara beberapa wilayah masih terisolasi akibat banjir dan longsor.
Kondisi ini membuat risiko penyebaran penyakit menular semakin tinggi.
Pakar kesehatan, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan ada empat kelompok penyakit menular yang perlu diwaspadai di area terdampak bencana, yaitu:
“Keempat kelompok penyakit ini saling berkaitan. Dalam situasi bencana, penurunan kualitas air, sanitasi buruk, dan padatnya pengungsian membuat risiko penularan meningkat tajam,” ujar mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu saat dihubungi detikcom, Jumat (28/11/2025).
Ia juga menegaskan bahwa kelompok rentan pascabencana bukan hanya lansia, anak-anak, atau mereka yang memiliki komorbid dan imunitas rendah.
“Biasanya kita sebut rentan adalah lansia, anak-anak, dan mereka dengan komorbid atau imunitas lemah. Tetapi pada keadaan bencana, masyarakat umum yang rumah atau desanya terdampak dapat menjadi rentan pula terhadap berbagai penyakit,” jelasnya.
Perubahan lingkungan yang ekstrem, stres, kurang tidur, keterbatasan air bersih, serta paparan cuaca dingin membuat orang sehat sekalipun lebih mudah terkena penyakit.
Ketersediaan air bersih menjadi hal yang paling penting untuk mencegah berbagai penyakit setelah bencana.
Para ahli mengingatkan bahwa risikonya bukan hanya penyakit yang biasa dikategorikan sebagai water-borne disease, tetapi juga penyakit lain yang muncul akibat sanitasi yang buruk.
“Keempat jenis penyakit menular tadi perlu diantisipasi bersamaan. Krisis air bersih memperburuk banyak aspek, dari kebersihan makanan, higiene pribadi, hingga kualitas lingkungan,” jelasnya.
Bencana juga bisa memperburuk kondisi penderita penyakit tidak menular (PTM).
Misalnya diabetes yang bisa memburuk karena pola makan dan minum yang tidak teratur, penyakit paru kronik (PPOK) yang rentan kambuh akibat udara lembap atau paparan debu, serta hipertensi dan penyakit jantung yang bisa terpicu oleh stres dan kurangnya obat.
“Situasi bencana dapat membuat pasien PTM tidak bisa mengakses obat atau kontrol rutin, sehingga risiko komplikasi meningkat,” ujarnya.
Untuk mencegah munculnya kejadian luar biasa penyakit pascabencana, ada beberapa langkah penting yang perlu segera dilakukan.
Mulai dari memastikan ketersediaan air bersih, menyediakan fasilitas mandi-cuci-kakus serta tempat cuci tangan, hingga memperketat pengawasan kebersihan makanan di dapur umum.
Penataan ruang pengungsian juga perlu diperhatikan agar memiliki ventilasi yang baik dan tidak terlalu padat.
Selain itu, obat rutin bagi penderita penyakit kronik juga harus dijamin.
Warga pun diimbau menjaga kebersihan diri dan mengolah air dengan cara sederhana sebelum digunakan.
“Upaya ini harus berjalan paralel dengan penanganan bencana. Dalam hitungan hari, penyakit bisa meningkat jika tidak segera diantisipasi,” tegasnya.
Rangkuman AI sedang dibuat…