Bagaimana Cara Melihat Hilal di Zaman Nabi? Tanpa Teleskop Tapi Tetap Akurat!



HAIJAKARTA.ID- Kabar baik bagi para lulusan perguruan tinggi yang ingin menambah pengalaman kerja. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) kembali membuka pendaftaran Program Pemagangan Nasional atau MagangHub Batch 3 Angkatan II mulai 27 Oktober hingga 4 November 2026. Program ini memberikan kesempatan bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja secara langsung di perusahaan mitra, sekaligus meningkatkan keterampilan dan […]

HAIJAKARTA.ID- Kabar baik bagi lulusan perguruan tinggi yang ingin memperoleh pengalaman kerja sekaligus berkontribusi dalam pengawasan sektor energi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi membuka Program Pengawal Energi 2026 dengan menyediakan 108 posisi bagi talenta muda Indonesia. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pengawasan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi […]

HAIJAKARTA.ID- Kabar gembira bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin menikmati liburan hemat. Taman Impian Jaya Ancol menghadirkan program gratis tiket masuk kawasan pada 16–31 Oktober 2026. Melalui program ini, pengunjung bisa menikmati suasana pantai hingga malam hari tanpa dikenakan biaya tiket masuk orang pada jam yang telah ditentukan. Berdasarkan informasi promosi yang beredar, program […]
HAIJAKARTA.ID- Bagaimana cara melihat hilal di Zaman Nabi? Penentuan awal bulan Ramadhan kerap menjadi perbincangan hangat di Indonesia.
Perbedaan metode antara dua organisasi Islam terbesar, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menjadi salah satu faktor utama munculnya perbedaan awal puasa maupun Idul Fitri di beberapa tahun tertentu.
Dalam kalender Hijriah, penentuan awal bulan sangat bergantung pada kemunculan hilal, yaitu bulan sabit muda pertama yang tampak setelah fase konjungsi (ijtima’).
Keberadaan hilal inilah yang menjadi penanda masuknya bulan baru, termasuk Ramadhan dan Syawal.
Secara umum, terdapat dua metode utama yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah:
Nahdlatul Ulama menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal di langit saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan.
Metode ini tidak hanya mengandalkan penglihatan mata telanjang, tetapi juga dibantu dengan alat seperti teleskop.
NU tetap menggunakan perhitungan astronomi (hisab), namun hanya sebagai alat bantu, bukan penentu utama.
NU juga mengacu pada kriteria Imkanur Rukyat, yaitu kemungkinan hilal dapat terlihat dengan syarat:
Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun jika tidak terlihat (misalnya karena mendung), maka bulan berjalan disempurnakan menjadi 30 hari.
Dasar metode ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW:
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup, maka sempurnakanlah bulan menjadi 30 hari.” (HR Bukhari dan Muslim)
Berbeda dengan NU, Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yakni perhitungan astronomi tanpa harus melihat langsung hilal.
Dalam metode ini, awal bulan ditentukan jika memenuhi tiga syarat:
Jika ketiga syarat tersebut terpenuhi, maka keesokan hari sudah masuk bulan baru, tanpa perlu menunggu hilal terlihat secara fisik.
Menurut Muhammadiyah, metode hisab memberikan kepastian yang lebih akurat karena berbasis ilmu astronomi yang dapat dihitung jauh hari sebelumnya.
Perbedaan ini berakar dari cara memahami hadis Nabi tentang “melihat hilal”. NU menafsirkan “melihat” secara literal, yaitu melihat langsung dengan mata (rukyat)
Muhammadiyah menafsirkan “melihat” secara ilmiah, yaitu cukup dengan mengetahui melalui perhitungan (hisab)
Perbedaan pendekatan ini kemudian melahirkan dua sistem yang sama-sama memiliki dasar kuat, baik secara syariat maupun ilmiah.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, metode yang digunakan adalah rukyatul hilal secara langsung tanpa bantuan alat modern.
Berikut gambaran praktiknya:
Jika hilal tidak terlihat (misalnya karena cuaca), maka bulan disempurnakan menjadi 30 hari
Pada masa itu, belum ada teleskop atau teknologi astronomi modern. Karena itu, metode rukyat menjadi cara paling memungkinkan dan praktis.
Perbedaan metode antara NU dan Muhammadiyah sejatinya merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Keduanya memiliki dasar yang kuat dan tujuan yang sama, yaitu menentukan waktu ibadah dengan tepat.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk:
Dengan sikap saling menghargai, perbedaan ini justru menjadi kekayaan intelektual dalam Islam, bukan sumber perpecahan.
Rangkuman AI sedang dibuat…