Bukan Lagi Tokyo, Jakarta Kini Menyandang Status Kota Terpadat di Dunia!



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID- Jakarta resmi menyandang status sebagai kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.
Predikat tersebut tercantum dalam laporan World Urbanization Prospects 2025 yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam laporan tersebut, kawasan metropolitan Jakarta tercatat memiliki sekitar 41,9 juta penduduk.
Jumlah itu menempatkan Jakarta di posisi teratas mengungguli Tokyo, Jepang, yang selama lebih dari dua dekade menjadi kota terpadat di dunia.
PBB menjelaskan bahwa perhitungan terbaru tidak lagi hanya mengacu pada batas administratif suatu kota, melainkan menggunakan pendekatan kawasan perkotaan fungsional yang terintegrasi secara ekonomi dan fisik.
Lonjakan jumlah penduduk Jakarta dalam data PBB salah satunya dipengaruhi oleh perubahan metode penghitungan.
Kawasan metropolitan Jakarta kini mencakup wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga sebagian kawasan Puncak dan Cianjur yang memiliki keterkaitan aktivitas ekonomi dan mobilitas yang sangat tinggi.
Meski jumlah penduduk DKI Jakarta secara administratif berada di kisaran 11 juta jiwa, jutaan warga yang tinggal di kota-kota penyangga setiap hari beraktivitas di kawasan inti ibu kota.
Karena keterhubungan tersebut, PBB menilai seluruh wilayah Jabodetabekpunjur berfungsi sebagai satu kawasan urban yang tidak dapat dipisahkan.
Selain perubahan metode perhitungan, arus urbanisasi yang terus berlangsung menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan penduduk Jakarta.
Sebagai pusat ekonomi nasional, Jakarta masih menjadi tujuan utama masyarakat dari berbagai daerah yang mencari peluang pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, maupun pengembangan usaha.
Daya tarik tersebut dinilai tetap kuat meskipun pemerintah telah memulai pemindahan ibu kota negara ke Nusantara di Kalimantan Timur.
PBB bahkan memproyeksikan populasi kawasan metropolitan Jakarta masih akan bertambah sekitar 10 juta jiwa dalam 25 tahun mendatang apabila tren pertumbuhan saat ini terus berlanjut.
Laporan PBB juga menyoroti faktor lingkungan dan perubahan iklim yang turut memengaruhi perpindahan penduduk menuju kota-kota besar.
Sebagian masyarakat dari wilayah pesisir maupun daerah yang rentan terhadap bencana iklim memilih berpindah ke kawasan perkotaan dengan akses infrastruktur dan layanan publik yang lebih baik. Fenomena ini turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi Jakarta.
Ironisnya, Jakarta sendiri menghadapi ancaman serius akibat penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut.
Sejumlah kajian memperkirakan sebagian wilayah ibu kota berpotensi mengalami genangan permanen atau tenggelam pada pertengahan abad ini apabila langkah mitigasi tidak dilakukan secara optimal.
Data terbaru menunjukkan dominasi Asia dalam daftar kota-kota berpenduduk terbesar di dunia. Dari 10 kawasan metropolitan terpadat, sembilan di antaranya berada di Asia.
Selain Jakarta, kota-kota seperti Dhaka, Tokyo, Delhi, Shanghai, dan Karachi masih menjadi pusat konsentrasi penduduk global.
Sementara itu, Kairo di Mesir menjadi satu-satunya kota di luar Asia yang masuk dalam daftar tersebut.
PBB juga mencatat jumlah megacity atau kota dengan populasi di atas 10 juta jiwa kini mencapai 33 kota di seluruh dunia. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 1975 yang hanya mencatat delapan megacity.
Status sebagai kawasan perkotaan terbesar di dunia membawa peluang sekaligus tantangan bagi Jakarta.
Di satu sisi, jumlah penduduk yang besar menciptakan pasar ekonomi yang luas, ketersediaan tenaga kerja yang melimpah, serta peluang investasi dan bisnis yang terus berkembang.
Namun di sisi lain, kepadatan penduduk juga meningkatkan tekanan terhadap infrastruktur perkotaan, mulai dari transportasi, penyediaan air bersih, sanitasi, perumahan, hingga layanan kesehatan.
Masalah klasik seperti kemacetan lalu lintas, polusi udara, banjir, dan ketimpangan pembangunan diperkirakan akan semakin kompleks apabila tidak diimbangi dengan tata kelola perkotaan yang berkelanjutan.
PBB menegaskan bahwa capaian Jakarta sebagai kawasan metropolitan terbesar di dunia bukan hanya menjadi simbol pertumbuhan, tetapi juga peringatan penting agar pembangunan kota dilakukan secara lebih terencana, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan iklim di masa depan.
Rangkuman AI sedang dibuat…