Kain untuk Diplomasi, Indonesia dan Rusia Rajut Persahabatan Lewat Warisan Budaya



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID – Hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Federasi Rusia terus menunjukkan penguatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tak hanya di bidang politik dan ekonomi, kerja sama kedua negara kini juga merambah ke sektor kebudayaan yang dinilai mampu menjadi jembatan diplomasi yang halus namun bermakna.
Dalam semangat itulah, Ikatan Wanita Berbudaya Indonesia (IWBI) bekerja sama dengan Russia House Indonesia menggelar forum budaya bertajuk “Kain for Diplomacy: Cultural Threads Between Indonesia & Russia.”
Acara yang berlangsung di Russian House in Indonesia, pada tanggal 18 Oktober ini mengupas peran kain budaya, sebagai simbol kebangsaan sekaligus alat diplomasi budaya yang merepresentasikan nilai, identitas, dan kemanusiaan dua bangsa.
Kegiatan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh strategis dari Indonesia dan Rusia ini menghadirkan diskusi panel tingkat tinggi tentang posisi tekstil dalam diplomasi kontemporer. Founder sekaligus Ketua IWBI, Nanik Prastiya N., S.H., menilai kegiatan ini menjadi ajang penting bagi generasi muda untuk memahami kekuatan budaya.
“Dari para panelis luar biasa sekali, banyak ilmu dan wawasan yang bermanfaat, terutama bagi generasi muda. Harapannya semangat ini bisa menginspirasi mereka untuk mencintai budaya Indonesia,” ujar Tiya.
Sementara itu, Nikita S. Shilikov, Director of Russian House In Indonesia, menegaskan bahwa budaya adalah salah satu pilar utama dalam diplomasi antarnegara.
“Budaya adalah salah satu pilar diplomasi. Melalui warisan budaya, sejarah, dan tradisi, hubungan kita menjadi semakin mendalam. Dari acara ini kami jadi lebih mengenal tradisi di Indonesia,” katanya.

IWBI juga mendorong keterlibatan generasi muda, terutama Gen Z, untuk bangga terhadap warisan budaya yang menjadi identitas bangsa. Hal itu disampaikan oleh Hj. Liana Suprapto, Founder IWBI.
“Kami berharap mendapat sambutan yang baik dari masyarakat, terutama generasi muda. Betapa kaya budaya kita, dan betapa pentingnya menjaga warisan nenek moyang untuk tampil di kancah internasional,” ungkapnya.
Akub Zainal, selaku Dewan Penasehat IWBI, menambahkan bahwa kebiasaan sederhana seperti berkain juga merupakan bentuk diplomasi budaya.
“Dengan cara berkain, itu sudah menjadi tolak ukur kita sebagai bangsa Indonesia di mata dunia internasional,” ujarnya.
Apresiasi terhadap kekayaan tekstil Indonesia juga datang dari kalangan diplomat Rusia.
Alexey Rykov, Senior Diplomat, Counsellor of the Russian Embassy in Indonesia, mengaku terkesan dengan karya kain yang ditampilkan.
“Saya sangat menyukai kain-kain yang ditampilkan. Semoga kain budaya Indonesia bisa dikenal lebih luas, khususnya oleh masyarakat Rusia,” tuturnya.
Menurut HE Dra. Diennaryati Tjokrosuprihatono, M.Psi., mantan Duta Besar Indonesia untuk Ekuador (2016–2020) dan juga Founder IWBI sekaligus panelis dalam acara ini, diplomasi budaya dapat dilakukan melalui banyak cara. Salah satu yang paling efektif adalah melalui busana.
“Diplomasi budaya itu banyak, dan yang paling ampuh adalah fashion diplomacy. Kita memperkenalkan diri sebagai duta bangsa lewat tenun, batik, songket, atau lurik yang kita kenakan di mana pun berada. Dari sana orang mulai mengagumi, lalu kita angkat filosofinya,” jelasnya.
Melalui forum “Kain for Diplomacy”, Indonesia dan Rusia membuktikan bahwa diplomasi bukan hanya tentang kekuatan politik, tetapi juga tentang keindahan, nilai, dan identitas yang diwariskan lintas generasi.
Kain menjadi simbol lembut namun kuat merajut hubungan dua bangsa melalui benang budaya yang indah dan bermakna.
Rangkuman AI sedang dibuat…