Kampus Mulai Evaluasi Sistem Ujian di Era AI, Ujian Lisan Kembali Jadi Andalan?



HAIJAKARTA.ID- Kabar baik bagi para lulusan perguruan tinggi yang ingin menambah pengalaman kerja. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) kembali membuka pendaftaran Program Pemagangan Nasional atau MagangHub Batch 3 Angkatan II mulai 27 Oktober hingga 4 November 2026. Program ini memberikan kesempatan bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja secara langsung di perusahaan mitra, sekaligus meningkatkan keterampilan dan […]

HAIJAKARTA.ID- Kabar baik bagi lulusan perguruan tinggi yang ingin memperoleh pengalaman kerja sekaligus berkontribusi dalam pengawasan sektor energi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi membuka Program Pengawal Energi 2026 dengan menyediakan 108 posisi bagi talenta muda Indonesia. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pengawasan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi […]

HAIJAKARTA.ID- Kabar gembira bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin menikmati liburan hemat. Taman Impian Jaya Ancol menghadirkan program gratis tiket masuk kawasan pada 16–31 Oktober 2026. Melalui program ini, pengunjung bisa menikmati suasana pantai hingga malam hari tanpa dikenakan biaya tiket masuk orang pada jam yang telah ditentukan. Berdasarkan informasi promosi yang beredar, program […]
HAIJAKARTA.ID- Kampus mulai evaluasi sistem ujian di era AI, perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini membawa tantangan serius bagi dunia pendidikan tinggi.
Semakin banyak mahasiswa memanfaatkan teknologi AI untuk menyelesaikan tugas kuliah hingga ujian, membuat perguruan tinggi mulai mengkaji ulang sistem penilaian akademik yang selama ini diterapkan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga meluas secara global. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Inside Higher Ed-College Pulse, sekitar 85 persen mahasiswa di Amerika Serikat mengaku pernah menggunakan AI dalam berbagai aktivitas akademik.
Mulai dari diskusi kelas, kuis daring, hingga penyusunan tugas tertulis secara langsung dengan bantuan teknologi.
Lonjakan penggunaan AI ini semakin pesat sejak pandemi COVID-19, ketika pembelajaran jarak jauh menjadi kebiasaan baru.
Kehadiran platform AI generatif seperti ChatGPT pada 2022 turut mempercepat perubahan pola belajar mahasiswa, sekaligus mengguncang sistem evaluasi akademik konvensional yang selama ini mengandalkan tugas tertulis dan ujian daring.
Para akademisi menyebut tren ini sebagai cognitive offloading, yaitu kondisi ketika mahasiswa menyerahkan sebagian besar proses berpikir dan analisis kepada teknologi.
Alih-alih mengolah ide secara mandiri, mahasiswa cukup memasukkan perintah ke sistem AI dan menerima jawaban instan yang tampak rapi serta meyakinkan.
Model evaluasi seperti ujian take home, esai daring, serta tugas pemrograman berbasis komputer dinilai semakin rentan dimanipulasi.
Banyak dosen mengaku kesulitan membedakan hasil kerja orisinal mahasiswa dengan konten yang dihasilkan mesin.
Kondisi tersebut mendorong perguruan tinggi mencari pendekatan baru agar proses penilaian tetap mencerminkan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar hasil akhir yang sempurna secara teknis.
Dalam laporan Inside Higher Ed-College Pulse, sekitar 30 persen perguruan tinggi mengaku tengah mendesain ulang sistem evaluasi agar lebih tahan terhadap penyalahgunaan AI.
Salah satu solusi yang kembali populer adalah penerapan ujian lisan. Metode ini dikombinasikan dengan ujian tulis manual, presentasi langsung, serta evaluasi tanpa perangkat digital.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dituntut menjelaskan konsep secara verbal, mempertahankan argumen, dan menunjukkan proses berpikir mereka secara nyata di hadapan dosen.
Langkah ini dianggap lebih efektif untuk mengukur pemahaman sesungguhnya dibanding sekadar menilai tugas tertulis yang berpotensi dihasilkan oleh AI.
Dorongan perubahan ini juga diperkuat oleh temuan penelitian dari penerbit akademik global Taylor & Francis pada 2025.
Studi tersebut merekomendasikan agar institusi pendidikan memberikan fleksibilitas lebih besar kepada dosen dalam merancang sistem evaluasi.
Para peneliti menilai pendekatan kreatif seperti ujian lisan, penilaian berbasis proses, serta diskusi terbuka mampu menjaga integritas akademik di tengah derasnya arus teknologi AI.
Transformasi sistem penilaian dinilai tak terelakkan, mengingat AI akan terus berkembang dan semakin sulit dideteksi dengan alat konvensional.
Ujian lisan menawarkan sejumlah keunggulan penting. Dosen dapat menilai langsung kedalaman pemahaman mahasiswa, kemampuan berpikir kritis, serta keaslian jawaban tanpa bergantung pada perangkat pendeteksi AI yang sering kali tidak akurat.
Selain itu, metode ini dinilai mampu memperbaiki hubungan akademik antara dosen dan mahasiswa.
Proses evaluasi berlangsung lebih dialogis, bukan konfrontatif seperti saat membuktikan dugaan kecurangan berbasis teknologi.
Namun demikian, ujian lisan juga memiliki keterbatasan. Untuk kelas dengan jumlah mahasiswa besar, metode ini membutuhkan waktu lebih lama dan sumber daya tambahan.
Beban kerja dosen pun berpotensi meningkat, terutama di tengah keterbatasan tenaga pengajar.
Karena itu, banyak akademisi sepakat bahwa ujian lisan sebaiknya dijadikan bagian dari kombinasi sistem evaluasi, bukan pengganti mutlak ujian konvensional.
Selain ujian lisan, sejumlah kampus juga mengembangkan pendekatan alternatif, seperti:
Model ini menuntut mahasiswa menunjukkan alur berpikir, bukan sekadar menyerahkan hasil akhir. Menariknya, banyak mahasiswa justru menyambut positif perubahan ini.
Sejumlah survei internal kampus menunjukkan mahasiswa merasa ujian lisan memberi ruang lebih besar untuk mengekspresikan pemahaman secara aktif, bukan hanya menghafal atau mengandalkan teknologi.
Para pakar pendidikan menilai bahwa AI tidak bisa sepenuhnya dihindari. Yang terpenting adalah bagaimana institusi pendidikan menyesuaikan diri dengan teknologi tanpa mengorbankan esensi pembelajaran.
Reformasi sistem penilaian ini dianggap sebagai momentum penting untuk menegaskan kembali tujuan pendidikan tinggi.
Tujuannya membentuk kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif, bukan sekadar menghasilkan jawaban instan.
Meski belum sepenuhnya kebal terhadap AI, kombinasi metode evaluasi yang lebih interaktif diyakini mampu menjaga kualitas akademik di tengah revolusi digital.
Rangkuman AI sedang dibuat…