Rawon hingga Opor Ayam Menghilang dari Warteg di Jakarta, Ini Penyebabnya



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID – Warung tegal (warteg) di Jakarta menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga bahan pangan yang terus terjadi. Di tengah kondisi tersebut, banyak pedagang memilih memangkas menu andalan dibandingkan menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.
Ketua Komunitas Warung Tegal Nusantara (KOWANTARA) Mukroni mengatakan pedagang warteg kini berada dalam posisi sulit. Harga bahan baku terus meningkat, sementara kemampuan belanja pelanggan tidak mengalami kenaikan yang signifikan.
Menurutnya, mayoritas pelanggan warteg berasal dari kalangan pekerja dan mahasiswa yang umumnya hanya memiliki anggaran sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 untuk sekali makan.
“Kalau harga dinaikkan, pelanggan bisa berkurang. Jadi banyak pedagang memilih mengurangi menu yang dijual,” kata Mukroni.
Sebagai langkah bertahan, sejumlah warteg mulai meghilangkan beberapa menu yang membuthkan biaya produksi lebih tinggi. Menu seperti rawon, terong balado, hingga opor ayam perlahan tidak lagi tersedia di beberapa warung makan.
Mukroni menyebut keputusan tersebut menjadi pilihan paling berat yang harus diambil pedagang untuk menjaga kelangsungan usaha di tengah meningkatnya biaya operasional.
Langkah ini menunjukkan bagaimana usaha kuliner skala kecil berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang semakin menantang tanpa harus membebankan seluruh kenaikan biaya kepada pelanggan.
Tak hanya biaya bahan baku yang menaik, sejumlah pedagang juga mengeluhkan penurunan jumlah pelanggan.
Ayu (50) pemilik warteg di Rawabadak Utara, Koja, Jakarta Utara, mengaku warungnya kini jauh lebih sepi dibanding biasanya.
“Sekarang mah lagi sepi. Lagi kurang ramai sekarang mah,” katanya.
Kondisi serupa juga dialami oleh Dian (45), pemilik rumah makan di Kebon Bawang, tanjung Priok. Ia mengungkapkan biaya belanja harian yang sebelumnya sekitar Rp 100.000 kini bisa mencapai Rp 200.000.
Di sisi lain, pendapatan usahanya justru mengalami penurunan.
“Pendapatan juga kan biasa minimal itu misalkan dapatnya Rp 2 juta, bisa dapatnya cuma Rp 1,5 juta,” kata Dian.
Meski demikian, ia tetap memilih tidak menaikkan harga makanan.
“Kalau mahal nanti enggak ada pelanggan,” ungkapnya.
Lina (37) pengelola Warteg Gria Bahari di Pamulang, menilai kondisi saat ini bahkan lebih berat dibandingkan saat pandemi Covid-19.
Menurutnya, jumlah pelanggan di warungnya turuh hingga 50 persen. Ia melihat perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini semakin menghemat pengeluaran.
“Saya bandingkan, jujur masih mending zaman Covid. Pas social distancing orang masih butuh makan dan daya beli masih kuat. Kalau sekarang benar-benar berat, orang mau makan saja sudah susah,” kata Lina.
Ia menuturkan dua hingga tiga tahun lalu pelanggan masih mampu membeli beberapa lauk sekaligus. Namun kini banyak pelanggan hanya membeli makan seperlunya.
“Sekarang tuh orang makan mungkin satu hari sekali,” katanya.
Lina juga mengaku melihay semakin banyak pelaku usaha kecil di sekitar tempat usahanya uang memilih tutup usaha dan kembali ke kampung halaman karena tidak sanggup menanggung biaya operasional.
Pedagang pecel ayam hingga penjual soto disebut mulai gulung tikar akibat modal usaha yang habis untuk menutupi biaya belanja harian dan kontrak tempat usaha.
“Mereka sudah tidak kuat bayar perpanjangan kontrak karena modalnya habis untuk nombok belanja,” kata Lina.
KOWANTARA berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan harga pangan agar pelaku usaha kuliner rakyat tetap bisa bertahan.
Menurut mereka, stabilisasi harga bahan baku menjadi faktor penting agar warteg tetap mampu menyediakan menu yang beragam dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.
Kondisi yang dialami warteg saat ini dinilai menjadi gambaran nyata tekanan yang sedang dihadapi usaha mikro di sektor kuliner, terutama yang menyasar konsumen dengan anggaran terbatas.
Jika harga pangan terus meningkat sementara daya beli masyarakat belumpulih, ruang gerak pelaku usaha kecil diperkirakan akan semakin sempit.
Rangkuman AI sedang dibuat…