Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Sejarah Membuktikan Masih Ada Peluang Pulih?



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID- Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah baru setelah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp18.020 per dolar AS, sekaligus menjadi level terlemah sepanjang sejarah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan rupiah yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Setelah sebelumnya menembus batas psikologis Rp17.000 dan Rp17.500 per dolar AS, kini rupiah resmi bergerak di atas Rp18.000 per dolar AS.
Meski kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat, data historis menunjukkan bahwa pelemahan tajam rupiah tidak selalu berakhir dengan krisis berkepanjangan.
Dalam sejumlah periode sebelumnya, rupiah mampu bangkit dan menguat kembali setelah menembus level-level psikologis penting.
Berdasarkan data historis pergerakan nilai tukar, rupiah beberapa kali mengalami tekanan berat dalam satu dekade terakhir.
Namun setelah melemah tajam, mata uang Indonesia tersebut mampu menguat lebih dari Rp500 per dolar AS dalam rentang waktu tertentu.
Secara rata-rata, pemulihan tersebut membutuhkan waktu antara 51 hingga 126 hari kalender, tergantung pada kondisi ekonomi global maupun kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia.
Pada 2 Oktober 2018, rupiah menembus level Rp15.000 per dolar AS dan ditutup pada posisi Rp15.040.
Saat itu tekanan berasal dari kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang secara agresif menaikkan suku bunga.
Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik sehingga dana asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, Indonesia juga menghadapi tantangan berupa defisit transaksi berjalan yang melebar hingga sekitar US$31,1 miliar atau hampir 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia merespons dengan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap hingga total 175 basis poin sepanjang tahun 2018.
Langkah tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 26 November 2018, rupiah berhasil menguat ke level Rp14.470 per dolar AS.
Dengan demikian, rupiah membutuhkan sekitar 55 hari untuk kembali menguat lebih dari Rp500 dari titik pelemahannya.
Tekanan kembali terjadi pada 22 Mei 2019 ketika rupiah menyentuh level Rp14.520 per dolar AS.
Saat itu ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian global.
Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman sehingga mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Namun kondisi mulai membaik ketika pasar memperkirakan The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya.
Ekspektasi penurunan suku bunga AS membuat dolar melemah dan memberi ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang.
Hasilnya, pada 12 Juli 2019 rupiah kembali berada di bawah Rp14.000 per dolar AS dengan posisi Rp13.999. Proses pemulihan tersebut berlangsung sekitar 51 hari.
Gelombang pelemahan berikutnya terjadi pada 20 Oktober 2022 ketika rupiah menembus level Rp15.500 per dolar AS dan ditutup pada posisi Rp15.570.
Saat itu dunia tengah menghadapi dampak perang Rusia-Ukraina yang memicu lonjakan harga energi dan pangan global. Inflasi tinggi memaksa The Fed menaikkan suku bunga secara agresif, sehingga dolar AS menguat tajam terhadap berbagai mata uang dunia.
Bank Indonesia kembali mengambil langkah penyesuaian suku bunga guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia memperoleh keuntungan dari melonjaknya harga komoditas ekspor, khususnya batu bara.
Surplus perdagangan Indonesia pada 2022 mencapai lebih dari US$54 miliar dan menjadi penopang penting bagi stabilitas rupiah.
Setelah sekitar 96 hari, rupiah berhasil menguat kembali ke level Rp14.885 per dolar AS pada Januari 2023.
Pada April 2024, rupiah kembali menghadapi tekanan hingga menembus level Rp16.000 per dolar AS. Saat itu kurs sempat ditutup di Rp16.170 per dolar AS.
Penyebab utama pelemahan berasal dari menguatnya dolar AS akibat tertundanya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
Ketegangan geopolitik global juga meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang.
Rangkuman AI sedang dibuat…