Serupa Tapi Tak Sama! Ini Perbedaan Super Flu dan COVID-19 Menurut Para Ahli



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID – Kasus super flu belakangan menjadi perhatian global setelah lonjakan infeksi terjadi di Amerika Serikat sejak musim dingin 2025.
Di tengah kekhawatiran masyarakat, muncul pertanyaan besar terkait perbedaan super flu dan COVID-19, mengingat gejalanya yang sekilas tampak serupa.
Super flu sendiri merupakan istilah populer untuk menyebut infeksi influenza tipe A (H3N2) varian subclade K, yang kini juga telah terdeteksi di Indonesia.
Super flu merupakan istilah nonmedis yang digunakan untuk menyebut Influenza A (H3N2) J.2.4.1 subclade K, hasil mutasi dari virus influenza tipe A.
Penyebutan “super” muncul karena virus ini diduga memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dan luas.
Kepala Unit Manajemen Ancaman Epidemi dan Pandemi WHO, dr. Wenqing Zhang, menyebut varian ini pertama kali terdeteksi di Australia dan Selandia Baru pada Agustus 2025.
“Data epidemiologi saat ini tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit,” tutur dr. Zhang, dikutip dari laman resmi WHO.
Sejak akhir 2025, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat lonjakan tajam kasus influenza.
Bahkan, 32 dari 50 negara bagian AS sempat masuk kategori wilayah dengan tingkat infeksi tinggi hingga sangat tinggi.
Pada 20 Desember 2025, Kota New York mencatat 71.123 kasus influenza hanya dalam satu pekan.
Angka tersebut menjadi rekor tertinggi mingguan yang pernah dicatat CDC.
Tak hanya Amerika Serikat, peningkatan kasus juga dilaporkan di Inggris, Australia, Jepang, hingga Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi masuknya virus H3N2 subclade K melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS).
“Setelah dilakukan WGS yang selesai pada 25 Desember lalu, diketahui bahwa subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025,” ujar Juru Bicara Kemenkes RI, Widyawati, Kamis (1/1/2026).
Ia menambahkan, hingga kini terdapat 62 kasus terkonfirmasi di Indonesia, dengan Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat sebagai wilayah terbanyak.
Meski sekilas memiliki gejala yang mirip, super flu dan COVID-19 merupakan dua penyakit yang berbeda.
Berikut sejumlah perbedaan super flu dan COVID-19 yang perlu diketahui masyarakat.
Super flu disebabkan oleh virus influenza tipe A (H3N2) subclade K yang berasal dari keluarga Orthomyxoviridae.
Sementara itu, COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang berasal dari keluarga Coronaviridae.
COVID-19 merupakan penyakit akibat mutasi virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Adapun super flu adalah varian baru dari virus influenza tipe A yang mengalami perubahan genetik sehingga memiliki tingkat penularan lebih cepat.
Super flu kerap disalahartikan sebagai flu biasa atau selesma.
Padahal, influenza bukan penyakit ringan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, menegaskan bahwa influenza tetap menjadi ancaman serius.
“[Influenza] ini masih merupakan salah satu penyebab kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta,” ujar dr. Nastiti.
Baik super flu maupun COVID-19 sama-sama berpotensi menimbulkan komplikasi.
Namun, influenza tipe A termasuk super flu dapat menyebabkan komplikasi berat.
Menurut dr. Nastiti, influenza berisiko memicu penyakit lanjutan seperti pneumonia, gagal ginjal, hingga gagal hati, terutama pada kelompok rentan.
Berikut ini penjelasan mengenai gejala dan resiko superflu, diantaranya adalah:
Pencegahan utama meliputi imunisasi tahunan serta penerapan pola hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan dan memakai masker saat sakit.
Rangkuman AI sedang dibuat…