Ironis! Tiga Siswa Berprestasi Dipulangkan Paksa Karena Tak Mampu Bayar SPP



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID- Tiga siswa berprestasi dipulangkan paksa karena tak mampu bayar SPP oleh pihak sekolah pada jam Pelajaran.
Tiga siswa Sekolah Dasar berbasis pendidikan agama di bawah naungan sebuah yayasan di Pandeglang, M. Faezya Athalla Febrian (11), M. Farraz Athilla Ahza (10), dan M. Fattan Atharva Ghazi (7), ketiganya dikenal sebagai anak yang berprestasi dan semangat belajar.
Sayangnya, mereka harus meninggalkan sekolah karena orang tua mereka tak mampu melunasi biaya SPP yang telah menunggak hingga Rp42 juta.
Orang tua ketiga anak tersebut, Defi Fitriani dan Muhammad Farhat mengungkapkan bahwa keputusan sekolah untuk memulangkan anak mereka merupakan pukulan berat bagi keluarga.
Defi dan Farhat adalah keluarga dengan kondisi ekonomi yang sulit. Mereka bekerja sebagai buruh harian merasa sangat berat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi harus membayar biaya pendidikan yang mahal.
Peristiwa ini terjadi saat jam pelajaran berlangsung, ketika ketiga siswa tersebut diantar pulang oleh pihak sekolah menggunakan mobil.
Dengan wajah lesu dan penuh kesedihan, mereka harus kembali ke rumah dan menghadapi kenyataan pahit bahwa pendidikan mereka terancam terhenti karena masalah ekonomi keluarga.
Farhat, sang ayah, menceritakan bahwa dirinya telah meminta kebijakan kepada sekolah agar pembayaran dapat dicicil.
Namun, permohonan itu tidak mendapat tanggapan positif. Defi, ibu dari ketiga siswa tersebut juga merasa sangat kecewa karena menurutnya keputusan sekolah tersebut tidak menunjukkan rasa kemanusiaan.
“Kami memohon agar anak-anak kami tidak dipulangkan saat jam pelajaran, tetapi pihak sekolah tetap melakukannya tanpa mempertimbangkan kondisi kami,” ungkap Farhat.
Kasus ini menyita perhatian publik karena sekolah tersebut seharusnya berperan sebagai lembaga pendidikan yang mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Namun, tindakan yang mereka ambil justru dinilai sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Ironisnya, sekolah tersebut juga diketahui telah menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah, yang seharusnya digunakan untuk membantu siswa kurang mampu.
Ketiga anak ini diketahui memiliki banyak prestasi di bidang akademis, yang dibuktikan dengan sejumlah sertifikat penghargaan.
Namun, prestasi mereka tampaknya tak cukup bagi sekolah untuk memberikan keringanan dalam hal pembayaran SPP.
Ibu mereka juga mengatakan bahwa meskipun ekonomi keluarganya sulit, ia berusaha agar anak-anaknya tetap belajar meskipun di rumah agar mereka tidak ketinggalan pelajaran.
Kejadian ini mendapat sorotan dari masyarakat, yang berharap pemerintah, terutama Menteri Pendidikan dan Presiden Prabowo Subianto, memperhatikan masalah ini secara serius.
Sebagai pejabat tinggi yang memiliki program untuk memajukan pendidikan di Indonesia, mereka diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang tegas agar kejadian serupa tidak terulang.
Apalagi di sekolah-sekolah swasta yang sering kali mengambil tindakan ekstrem terhadap siswa yang memiliki tunggakan biaya.
Sampai saat ini, pihak sekolah belum memberikan tanggapan atas kejadian tersebut. Beberapa wartawan yang mencoba melakukan konfirmasi di lokasi juga tidak diperkenankan masuk oleh petugas keamanan sekolah
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang sistem pendidikan di Indonesia, terutama terkait akses pendidikan bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Rangkuman AI sedang dibuat…