Nasib Program Internet Rakyat Rp100.000 Dipertanyakan? Pengamat Sebut, Kualitas dan Bisnis Belum Terjamin



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID – Program Internet Rakyat dengan tarif Rp100.000 per bulan dan kecepatan hingga 100 Mbps mulai menuai keraguan dari sejumlah pengamat terkait keberlanjutannya.
Meski menawarkan harga sangat murah, program ini dinilai berpotensi menghadapi kendala biaya operasional serta tekanan investasi jangka panjang.
Layanan tersebut diselenggarakan oleh PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI). Perusahaan itu diketahui harus membayar sekitar Rp400 miliar setiap tahun kepada pemerintah untuk penggunaan pita frekuensi 1,4 GHz dalam penyediaan layanan fixed wireless access (FWA) di Pulau Jawa, Maluku, dan Papua.
Pengamat telekomunikasi Kamilov Sagala menilai program ini lebih merupakan solusi jangka pendek. Menurutnya, harga murah memang bisa menarik minat masyarakat, tetapi tidak memberikan jaminan terhadap kualitas jaringan maupun keberlangsungan bisnis.
“Pengembalian investasinya berikut teknologi ke depannya menjadi tantangan tidak mudah. Bisa saja ada penyesuaian tarif atau subsidi dari regulator agar program ini bisa bertahan,” ujar Kamilov, Minggu (23/11/2025).
Ia menilai, tarif rendah pada layanan FWA umumnya digunakan sebagai strategi promosi untuk memperkenalkan produk baru. Namun strategi ini, lanjutnya, sebaiknya dibatasi dalam periode tertentu agar tidak membebani penyelenggara layanan.
Meski demikian, Kamilov mengakui Internet Rakyat berpotensi memperluas pemerataan internet, khususnya di wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber optik. “Untuk pemerataan akses internet dapat membantu wilayah non-fiber, tetapi pertanyaannya, berapa lama layanan ini bisa bertahan,” katanya.
Ia juga menyebut persaingan layanan FWA belum akan terasa dalam satu hingga dua tahun ke depan. Kompetisi justru diperkirakan meningkat di sektor penyedia layanan internet (ISP), bukan semata pada ranah FWA.
Lebih jauh, Kamilov menilai investasi ke depan membutuhkan kolaborasi multipihak antara penyedia layanan, pemerintah daerah, serta Komdigi dan kementerian terkait. “Model investasi ke depannya penting peran Komdigi dan pemda dalam kolaborasi agar ketersediaan infrastruktur 5G FWA bisa terwujud,” ujarnya.
Internet Rakyat merupakan layanan berbasis jaringan 5G FWA dengan kecepatan 100 Mbps yang dipatok sekitar Rp100.000 per bulan. Program ini saat ini tersedia di Pulau Jawa, Maluku, dan Papua. Untuk mengaksesnya, masyarakat harus melakukan pra-registrasi melalui situs resmi dengan mengisi data diri serta menandai lokasi tempat tinggal sebelum pengajuan diverifikasi.
Rangkuman AI sedang dibuat…