Terlanjur Konsumsi Siomai Ikan Sapu-sapu? Peneliti BRIN Imbau Tetap Tenang Namun Waspada!



HAIJAKARTA.ID- Kabar baik bagi para lulusan perguruan tinggi yang ingin menambah pengalaman kerja. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) kembali membuka pendaftaran Program Pemagangan Nasional atau MagangHub Batch 3 Angkatan II mulai 27 Oktober hingga 4 November 2026. Program ini memberikan kesempatan bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja secara langsung di perusahaan mitra, sekaligus meningkatkan keterampilan dan […]

HAIJAKARTA.ID- Kabar baik bagi lulusan perguruan tinggi yang ingin memperoleh pengalaman kerja sekaligus berkontribusi dalam pengawasan sektor energi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi membuka Program Pengawal Energi 2026 dengan menyediakan 108 posisi bagi talenta muda Indonesia. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pengawasan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi […]

HAIJAKARTA.ID- Kabar gembira bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin menikmati liburan hemat. Taman Impian Jaya Ancol menghadirkan program gratis tiket masuk kawasan pada 16–31 Oktober 2026. Melalui program ini, pengunjung bisa menikmati suasana pantai hingga malam hari tanpa dikenakan biaya tiket masuk orang pada jam yang telah ditentukan. Berdasarkan informasi promosi yang beredar, program […]
HAIJAKARTA.ID- Bagaimana kalo kita terlanjur konsumsi siomai ikan sapu-sapu? Isu keamanan pangan kembali menjadi perhatian publik setelah muncul kekhawatiran mengenai penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan olahan, seperti siomai.
Fenomena ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, terutama karena ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies yang hidup di lingkungan perairan dengan kualitas yang beragam, termasuk yang tercemar.
Menanggapi hal tersebut, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan klarifikasi ilmiah guna meluruskan informasi yang berkembang sekaligus mengedukasi masyarakat agar tidak terjebak dalam kepanikan berlebihan.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu memang berpotensi mengandung logam berat yang berasal dari lingkungan tempat hidupnya.
Hal ini tidak terlepas dari karakteristik ikan tersebut yang bersifat omnivora atau pemakan segala.
Dalam ekosistem perairan, ikan sapu-sapu cenderung mengonsumsi berbagai jenis bahan organik maupun anorganik, termasuk limbah dan partikel yang mengandung zat berbahaya.
Akibatnya, logam berat dapat terakumulasi di dalam tubuh ikan, khususnya pada jaringan daging.
Namun demikian, Triyanto menegaskan bahwa keberadaan logam berat tersebut tidak otomatis membahayakan jika dikonsumsi dalam jumlah kecil.
Risiko kesehatan baru muncul apabila konsumsi dilakukan secara berlebihan dan terus-menerus dalam jangka waktu panjang.
Lebih lanjut, Triyanto menjelaskan bahwa dampak negatif logam berat terhadap tubuh manusia tidak terjadi secara instan.
Berdasarkan kajian ilmiah, efek berbahaya baru berpotensi muncul apabila seseorang mengonsumsi daging ikan sapu-sapu dalam jumlah ekstrem, yakni mencapai sekitar delapan kilogram per minggu secara rutin.
Dengan kata lain, masyarakat yang tanpa sengaja pernah mengonsumsi siomai atau makanan lain yang mengandung ikan sapu-sapu tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan.
Tubuh manusia memiliki mekanisme toleransi tertentu terhadap paparan zat berbahaya dalam jumlah kecil.
Meski begitu, ia tetap mengingatkan bahwa konsumsi jangka panjang tanpa kontrol tetap berisiko, terutama karena sifat logam berat yang tidak mudah terurai di dalam tubuh.
Salah satu poin penting yang disoroti dalam penelitian ini adalah sifat bioakumulasi logam berat.
Triyanto menjelaskan bahwa logam berat yang masuk ke dalam tubuh ikan tidak akan keluar melalui proses ekskresi seperti feses.
Sebaliknya, zat tersebut akan masuk ke dalam sistem pencernaan, kemudian terikat oleh protein dan tersimpan dalam jaringan tubuh, termasuk daging yang kemudian dikonsumsi manusia.
Kondisi ini menyebabkan logam berat terus menumpuk seiring waktu. Bahkan ketika ikan dipindahkan ke lingkungan perairan yang lebih bersih, kandungan logam berat yang sudah ada di dalam tubuhnya tidak akan hilang.
Lingkungan yang lebih baik hanya mencegah penambahan kadar logam berat, bukan mengurangi yang sudah terlanjur terserap.
Selain aspek kesehatan, Triyanto juga menyoroti adanya potensi praktik curang oleh oknum pedagang yang memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan olahan tanpa memberi informasi yang jelas kepada konsumen.
Hal ini menjadi perhatian serius karena masyarakat umumnya tidak dapat membedakan jenis ikan yang telah diolah menjadi produk seperti siomai, bakso ikan, atau makanan lainnya.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dan proaktif dalam memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi.
Salah satu langkah sederhana adalah dengan menanyakan secara langsung kepada penjual mengenai bahan baku yang digunakan.
Di sisi lain, Triyanto juga menyebutkan bahwa secara kandungan nutrisi, ikan sapu-sapu tidak sepenuhnya berbeda dengan ikan lainnya.
Ikan ini tetap mengandung protein, lemak, dan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Namun, nilai gizi tersebut menjadi kurang optimal apabila dibarengi dengan potensi kandungan zat berbahaya dari lingkungan tempat hidupnya.
Oleh karena itu, aspek keamanan tetap harus menjadi prioritas utama dibandingkan sekadar kandungan nutrisi.
Ikan sapu-sapu juga dikenal sebagai spesies invasif yang populasinya berkembang pesat di berbagai wilayah perairan Indonesia.
Kehadirannya tidak hanya berdampak pada keseimbangan ekosistem, tetapi juga menimbulkan tantangan dalam pengelolaan sumber daya perairan.
Upaya pengendalian populasi ikan ini telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga penelitian.
Namun, pemanfaatannya sebagai bahan pangan masih menjadi perdebatan, terutama dari sisi keamanan konsumsi.
Rangkuman AI sedang dibuat…