Film Animasi Merah Putih One for All Panen Hujatan Menjelang Tayang, Netizen: Grafik PS1



HAIJAKARTA.ID- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah mempertimbangkan usulan pembukaan 76 taman di Ibu Kota agar dapat beroperasi selama 24 jam. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik. Pramono mengatakan, usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Pemprov DKI akan terlebih […]

HAIJAKARTA.ID- Kapolri mengeluarkan kebijakan baru yang melarang seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggunakan rokok elektrik atau vape. Aturan tersebut berlaku mulai 30 Oktober 2026 dan ditujukan kepada seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP), baik yang bertugas di lingkungan kantor maupun di luar kedinasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/9/X/2026 tentang […]

HAIJAKARTA.ID- Mutasi terhadap tujuh anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Surabaya menjadi sorotan publik. Pasalnya, pemindahan sejumlah personel tersebut terjadi tidak lama setelah mereka terlibat dalam penanganan kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang menyeret tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra. Ketujuh anggota kepolisian tersebut diketahui dimutasi berdasarkan surat telegram Kapolrestabes Surabaya Nomor ST/309/X/KEP/2026 tertanggal 23 Oktober […]
HAIJAKARTA.ID – Film animasi Merah Putih One for All justru menjadi sorotan negatif publik menjelang hari penayangannya.
Karya garapan Perfiki Kreasindo yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop pada 14 Agustus 2025 ini diharapkan menjadi tontonan bertema nasionalisme, gotong royong, dan keberagaman, namun nyatanya menuai banyak hujatan warganet.
Film 3D ini mengisahkan delapan anak dari berbagai suku dan budaya yang tergabung dalam “Tim Merah Putih” untuk mencari bendera pusaka yang hilang tiga hari sebelum perayaan 17 Agustus.
Ceritanya dikemas sebagai petualangan penuh pesan moral.
Namun, sejak trailer resminya rilis, banyak penonton menilai kualitas visual animasinya kaku dan terkesan tergesa-gesa.
Nama Toto Soegriwo tercatat sebagai produser utama, memegang kendali penuh mulai dari pengembangan ide, koordinasi tim kreatif, hingga pengawasan kualitas visual dan narasi.
Toto menyebut film ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi karakter dan cinta tanah air untuk generasi muda.
“Dalam konteks Indonesia yang beragam, penting menanamkan rasa cinta Tanah Air sejak dini,” ujar Toto melalui akun Instagram pribadinya @totosoegriwo, dikutip Jumat (8/8/2025).
Toto Soegriwo dikenal sebagai sosok produser yang konsisten mengangkat tema-tema sosial dan kebangsaan dalam karya-karyanya.
Ia memulai kiprah di industri perfilman Indonesia sejak awal 2010-an, awalnya terlibat dalam produksi film pendek dan dokumenter bertema budaya.
Kariernya mulai dikenal publik setelah memproduseri film horor Basement Jangan Turun ke Bawah yang sukses di pasaran, disusul drama misteri Lantai 4 dan drama keluarga Ramadhan Pertama Tanpa Ayah.
Selain di dunia film, Toto aktif sebagai pembicara di berbagai seminar perfilman dan pendidikan karakter.
Ia kerap menekankan pentingnya konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai moral dan wawasan kepada penonton.
Dalam Merah Putih One for All, Toto mengambil peran penting untuk memastikan pesan nasionalisme, gotong royong, dan keberagaman dapat tersampaikan, meski kini film tersebut tengah menghadapi gelombang kritik.
Meski disebut menghabiskan anggaran sekitar Rp6,7 miliar, Merah Putih One for All dinilai jauh dari ekspektasi.
Banyak warganet membandingkannya dengan kesuksesan animasi lokal Jumbo karya Ryan Adriyani yang dianggap menetapkan standar baru industri animasi tanah air.
Seorang kreator animasi, Iqbal, mengungkapkan pendapatnya dengan nada tegas. Menurutnya, kualitas film ini kurang layak untuk layar lebar. “Sebagai pelaku industri animasi, saya merasa perlu menyampaikan kritik walau terdengar pedas,” ucapnya.
Di media sosial, kolom komentar penuh kritik pedas.
“Entah kenapa jadi ingat animasi Nusa yang aman-aman saja tapi malah dituduh negatif. Jumbo keren, tapi malah dicurigai. Aneh, kenapa negara justru mendukung animasi yang seperti ini, rasanya seperti ketinggalan satu dekade,” tulis akun @rizqi_ramadhan*****.
Komentar serupa juga menyebut, “Animasi ini seperti bikinan bapak-bapak warkop,”ujar @dimasbah*****
Netizen lain, @koiyocabe, berkomentar miring, “Kurang terasa sentuhan sineasnya.”
Tak sedikit pula yang menilai tampilannya mirip “grafik PS1.”
Rangkuman AI sedang dibuat…